Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Thursday, January 28, 2016

Missing my home


Seperti yang kalian baca sebelumnya, sebenernya, kalo bukan gara-gara keluarga gue yang bernama Sisgahana atau Chandra Purnama, gue ogah untuk pulang di liburan semester ini. Karena gue pengen keliling Bali, gue udah bikin plan solotrip ke Sembalun, gue udah bikin plan ke Rinjani dan lain-lain. Gue adalah salah satu tipe teman yang memilih tinggal di tempat nun jauh, bikin orang-orang kesel. Gue ngerasa belum sedewasa itu. Gue masih suka goyah. Kerinduan gue sama sisga aja bisa bikin gue nangis-nangis pengen pulang bahkan PENGEN PINDAH. Lol. Gue berusaha menenangkan diri gue..

Sampe akhirnya gue ngerasa “kayaknya gue udah libur terlalu lama”. Dengan kegiatan gue disini yang sangat gabut. Walaupun belum puas ketemu anak-anak sisga soalnya malu aja bolak-balik terus wkwkwk dan rencana naik gunung GAGAL TOTAL. Sedih. Tapi yaudah… gue pengen pulang ke Bali

Super seneng dengan sahabat-sahabat yang udah maju dengan kegiatan mereka. Seneng punya sahabat keren. Dan yah mau gimana lagi kalo sekarang jalan kita udah terpencar. Yang penting gue tau suatu saat bakal ketemu mereka lagi! Bakal kumpul lagi pas udah jadi hebat. Karena kita semua mulai di jalan yang sama. Mulai dari masuk sisga, berangan-angan di lapangan softball SMA 70 tentang impian masing-masing. dan BOOM! Tiba-tiba gak kerasa kita udah pisah. Seneng sekaligus sedih kalo denger cerita dari mereka #baper

Guys, gue cuma pengen jadi orang biasa. Gue tau gue gabisa mengubah dunia tapi at least Indonesia bisa mengenal gue sebagai seorang yang bermanfaat. Someday I will!

Mungkin kalian udah tau tentang mimpi gue. Bahkan sebenernya mimpi-mimpi itu udah banyak yang terwujud di kurun waktu satu semester ini. Gue kabur dari Jakarta, gue hampir lupa sama semua hal yang pernah gue lalui dulu, gue jadi orang yang lebih positif karena orang-orang di sekitar gue sangat positif. Gue nyapa orang-orang di pagi hari menuju kampus mulai dari tukang parkir, tukang nasi kuning, ibu-ibu yang lagi beribadah. Gue ketemu orang dengan berbagai agama dan bertoleransi dengan mereka. Gue sadar kalo “Islam dirusak oleh orang-orang Islam” is true.

Di Bali gue belajar gimana caranya tetep gaul, tetep keren, dan bisa menjalani hidup selaras dengan kebudayaan mereka. Kearifan lokal mereka luar biasa. Mereka sangat baik dan lembut. Mereka gabisa mendengar kata-kata kasar. Mereka adalah orang yang kalo motornya dipinjem harus ngisi bensinnya sampe penuh dulu.

Di Bali gue jadi jarang main HP. Lebih sering ngobrol, baca, nulis, dan jalan-jalan tentunya. Di Bali gue belum pernah berpolitik sama sekali. And im happy with that life. Gue belum memulai apa-apa. Gue belum masuk organisasi apapun. And im still happy with my life. Happier than I could ever imagine. Gue merasa lebih dekat sama Tuhan padahal disana agama Islam minoritas. Orang-orang disana lebih bisa memaknai apa itu agama, apa itu kebaikan, apa itu karma dibanding disini.

And ive seen the trailer of my dream waktu ke Sumba. Tentang pemandangan savanna dengan kuda-kuda. Tentang anak-anak yang butuh sosok pengajar karena mereka pengen belajar. Gak ada lagi asap. Gue hanya mengejar matahari, mengejar bulan, mengejar kabut, mengejar alam pokoknya

Saat itu sudah datang, kawan. Im telling you.

Dan gue sudah merasakan hidup dengan angin mengibas rambut gue, almost everyday…


I AM ALIVE!


Sunday, September 7, 2014

globalisasi



globalisasi itu banyak artinya. ada yang menurut si ini si itu yang udah pasti gabakal lo kenal

apa yang gue tangkep simple, globalisasi adalah saat lo lebih milih McD daripada nasi padang

 



banyak sih. saat lo lebih memilih main let's get rich daripada beli papan monopoli, saat lo lebih suka moto tulisan guru daripada menyalin itu semua ke buku lo, saat lo lebih memilih dengerin lagu kalo lagi di bus daripada harus membaca, dan lain-lain

semuanya sudah terjadi. ada yang namanya modernisasi dan westernisasi. modernisasi itu adalah hal yang udah pasti terjadi. zaman terus berubah, kita sebagai manusia harus selalu maju ke depan. modernisasi udah direncanain, prosesnya cepet. semua itu didukung sama iptek. jadi emang gabisa dipungkiri, kita semua pengen jadi manusia yang lebih baik

ngomongin soal globalisasi, gue lagi belajar sosiologi tentang beginian. lama-lama blog gue isinya tentang pelajaran semua nih. tapi sumpah, ini bikin gue gregetan




globalisasi itu terjadi karena dunia kita terbuka. semua negara rebutan untuk jadi yang paling hebat, termasuk Indonesia. tantangan tersendiri untuk kita, gimana caranya kualitas produk dan sdm kita lebih baik daripada negara lain. pilihannya, mau ikut bersaing atau cuma jadi penonton?

kalian pasti pada jawab ikut bersaing. ya, disini gue bakal ngejelasin sedikit tentang kelebihan dan kekurangan dari globalisasi. yang tentunya akan membuat kalian galau

modernisasi punya dampak positif kayak keadaan kita jadi lebih maju, adil, sejahtera. sedangkan negatifnya, menimbulkan banyak kriminalitas, kesenjangan sosial, sama konflik sosial



globalisasi udah pasti membuat kita jadi sama kayak negara-negara maju yang lain. punya gadget canggih, pake kendaraan keren, punya rumah mewah, pendidikan dan pekerjaan terjamin. itu semua ada di jakarta. masyarakat di jakarta itu heterogen. semuanya punya pemikiran berbeda. ada yang ngerasa di bagian hukum kurang, langsung ngambil jurusan hukum, ada yang ngerasa pengen jadi pengusaha, langsung ngambil jurusan bisnis, ada yang disuruh ortu jadi dokter, langsung ngambil jurusan kedokteran

 

di desa, masyarakatnya homogen. mereka cuma tau pekerjaan jadi petani. dari kecil udah diajarin caranya nyangkul. mau lo tereakin depan muka dia supaya belajar cari pekerjaan lain gabakal bisa. dia bakal jawab, "dari dulu nenek moyang gue juga jadi petani. ngapaen gue jadi yang laen?"

 

mau menumbuhkan globalisasi di daerah lain?

globalisasi menyebabkan batas-batas antardaerah itu ilang. sangking mudahnya berkomunikasi. jeleknya, itu semua mengikis nilai tradisi dan moral bangsa yang selama ini kita junjung tinggi. lama-lama Indonesia bisa kehilangan jati dirinya.. adanya TV, media. semua yang diliat sama masyarakat desa itu bisa disalah artikan. malah bisa ngerusak mental anak bangsa. mereka gatau mana yang harus diambil. mereka gabisa ngebedain mana yang positif atau negatif

gue abis sharing sama kakak gue (UNPAD, agribisnis). dia waktu itu KKN (kuliah kerja nyata) di daerah ciamis. di desa itu kakak gue dan teman-temannya yang lain membuat sebuah program. di desa itu, di depan setiap rumahnya ada kolam. kolam itu ada ikannya. tapi pipa WC mereka nyambungnya ke kolam itu. abis itu mereka makan ikannya. kurang jorok apa itu -_- program kakak gue adalah soal irigasi air mereka. saat kakak gue ke kepala desanya untuk ngebahas ini, kepala desanya menolak mentah-mentah. dengan alasan yang kayak tadi, 

"ini udah tradisi, dari dulu kita selalu pake kolam itu. lagian kita gaada yang sakit kok makan ikan dari kolam itu"

setelah itu kata kakak gue, awalnya petani disana seneng ada mahasiswa yang mau KKN. kirain mereka, kakak gue itu mau bantuin promosiin pertaniannya, bantuin secara langsung. padahal kakak gue cuma mau sosialisasi pestisida, dan alat pembajak sawah modern. pas kakak gue mau pulang, petani-petani itu jadi gasuka sama mahasiswanya. padahal maksudnya baik loh. lagian, sektor agraria di Indonesia itu SUMBER TAK TERBATAS. lo bisa membangun Indonesia walaupun yang ada cuma pertanian



ini bisa disebut cultural shock. keadaan dimana awalnya masyarakat seneng karena dapet pengalaman baru yang menarik. tapi pas udah dijalanin, ternyata gak sesuai sama yang diharapkan. mereka malah jadi tertekan

temennya cultural shock namanya cultural lag. ini lebih parah. keadaan dimana sebenernya masyarakat udah tau mana yang bener, tapi tetep aja melakukan yang salah. contohnya, sopir metromini yang punya SIM, tapi nyetirnya gak karuan. budaya siswa menyontek (jelas-jelas kita tau itu dosa), serta vandalisme/coret-coret (jelas-jelas itu merusak fasilitas)



westernisasi / pembaratan : meniru budaya barat? wah kita banget nih! segala tata cara kehidupan kita berkiblat ke dunia barat. mulai dari gaya rambut, baju, pergaulan bebas, party, minuman keras, dan lain-lain

cuma ada satu kiblat barat yang wajib kita tiru, yaitu kewirausahaan nya. kayak semangat kerja yang tinggi, menghargai waktu, disiplin, berpikir sistematis,  menguasai iptek, produktif, mandiri, dan bertanggungjawab. sisanya? JANGAN SAMPE!!!

 

orang-orang yang super gawl berkiblat barat itu sebenernya menerima mentah-mentah westernisasi. kebanyakan dari kita pengen dibilang gaul dan gak ketinggalan jaman. sifat yang melekat tuh individualistis dan materialistis (bener bangets, ini gue baca di buku jangan salahkan daku)

yang tadinya digunakan buat cara pemikiran, di Indonesia semua itu jadi salah. disini muncul sifat sombong, egois, gak peduli sama penderitaan orang, suka ngeremehin oranglain, menghargai orang karena kekayaannya, pengen dipuji mulu. semuanya demi gengsi

 

kebudayaan kita yang sebenernya yaitu sifat gotong royong, ramah, sopan, kerohanian, semua itu bisa pudar. sebentar lagi. makanya banyak di antara kita yang jadi orang tanggung. modern kaga, tapi westernisasi iya



ini lah tantangan, kegalauan gue terhadap globalisasi. mau ikutan jadi maju, tapi resikonya kehilangan jati diri bangsa. mau gaikutan, kita mau jadi negara sepayah apalagi?

Indonesia itu unik. secara horizontal (suku bangsa dan agama) kita sangat beragam, indah. secara vertikal (jabatan) kita terlalu tajem. kesenjangan sosialnya terlalu mencolok. terutama jakarta dibanding daerah lainnya. masyarakat kita majemuk, artinya kurang loyalitas secara keseluruhan. kita loyal sama daerah kita, tapi kita kurang loyal sama bangsa kita

itu semua karena terlalu banyak suku dan pulau di Indonesia. iklimnya aja beda-beda. tapi bukannya kita udah disatuin sama yang namanya Bhinneka Tunggal Ika? berbeda-beda, tapi tetep satu juga kan. tapi kenapa integrasi bangsa kita masih terpaksa?

 

katanya William Liddle (entah siapa gue juga gakenal), cara menghindari kemajemukan masyarakat itu dengan cara : sebagian besar anggota masyarakatnya bersepakat mengenai struktur pemerintahan dan aturan proses politik yang berlaku. SULIT BROH UNTUK INDONESIA.... orang sebanyak itu, di atur sama politik demokrasi. mau ngikutin kata masyarakat yang mana?!





sudahlah... mungkin ini terlalu berat... bahasa gue kayanya terlalu anak buku. baiklah, sebagai penutup, gue bakal membuat analogi nya (mentang-mentang lagi belajar bahasa indonesia tentang ini juga)


maaf yah kalo gue subjektif

anggap saja Indonesia adalah SMAN 70

apa yang membedakan 70 dari SMA-SMA lain? salah satunya kebandelannya. yah, semua aturan yang dikasih sama dinas itu terserah kita. mau diikutin kek, gak diikutin kek. tetep aja banyak yang dilanggar. udah di ancem, di hukum kayak apa juga kita tetep ngelanggar kan? dan sayangnya, kita semua sebagai siswa cukup pintar untuk menghindar dari hukuman para guru killer itu

coba kalo ada yang ngomong, "tahun ini gaada Bulungan Cup ya" gilak. jawabannya, ya gabakal. semua masyarakat di 70 pasti mengusahakan gimana pun caranya biar Bulcup terlaksana. yakan??? kalo ditanya kenapa pasti jawabannya, "ini pride kita"

kasus senioritas di 70 yang gaada berentinya disorot dinas, media. pengen rasanya gue ngomong, loe pikir senioritas cuma ada di 70 doank? banyak keleus yang lebih parah dari kita. curang banget mereka gaada yang disorot. lama-lama gue sebutin atu-atu nama sekolahnya disini. itu udah jadi kenyataan pahit di Indonesia. emang harus ada kalo mau kuat menghadapi kerasnya dunia. balik lagi kalo di tanya kenapa jawabannya, "ini udah tradisi"

apa bedanya masyarakat 70 sama masyarakat desa tadi? tentu saja ada bedanya

70 mengajarkan kita gimana caranya mempertahankan tradisi, tapi tetep bisa bersaing sama dunia luar. gue ngambil dari sisi negatif SMA 70 ya. kasarnya, kita sekarang adem ayem. tapi kalo ada yang berusaha nyerang, kita berani dan bisa nyerang balik dengan kekuatan yang lebih besar

70 secara brengseknya ngajarin gue kalo dunia emang keras. kita bisa jadi anak baik, kita bisa jadi anak super pinter, kita bisa jadi anak berkarakter, intinya kita bisa jadi yang orang-orang diluar sana harapkan. kita bisa kayak gitu, di saat di dalemnya kita tetep mempertahankan tradisi kita



gue mau masyarakat Indonesia sama brengseknya kayak anak 70. maruk. luarnya westernisasi, ngerti globalisasi, tapi dalemnya tetep Indonesia apa adanya...



gue pengen ngebuktiin kalo generasi emas itu beneran ada. kita, anak-anak jaman sekarang, bisa berpikir kritis. tahun 2045, kita bakalan udah siap menghadapi kerasnya dunia, tantangan global dan semacamnya. kalo kita di latih terus secara mental. gue yakin kita bisa, terutama anak-anak 70 yang brengsek wkwkwkwk

anyway, gue mau ngajar anak-anak di pedalaman sesuai cita-cita gueh. gue mau ngajarin tentang ini semua. mereka gaperlu ngerasain westernisasi atau globalisasi. gue cuma pengen mereka tau, kalo diluar sana ternyata ada hal kayak begini








suatu saat, entah tahun 2000 berapa, gue pengen ketika gue ngajar di pedalaman sana. gue masih ngeliat mereka main bola di lapangan. bukannya main gadget di rumah masing-masing :)