Thursday, January 28, 2016

"Jakarta, long time no see..."


8 Januari, 2016

Kalimat yang muncul di pikiran gue waktu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya semangat banget menghitung hari menuju hari dimana gue akan pulang. Sampai lama kelamaan jadi males untuk pulang. Rasanya berat untuk meninggalkan Pulau Dewata. 6 bulan tinggal di Bali dengan semua hal baru : teman baru, kampus baru, lingkungan baru. Tanpa ada yang sama seperti kehidupan gue sebelumnya. Tidak ada sama sekali yang tersisa dari kehidupan lama gue selain karakter gue sendiri.

Udara panas di Jakarta langsung menyambut gue yang sekarang sudah berhijab (Alhamdulillah). Gue bahkan baru sadar ternyata Jakarta memang sepanas ini. Gue pulang bareng sama anak antro. Teman seangkatan gue, Firly dan Elsa. Ada juga dua senior gue. Kita berpisah begitu saja. Kemudian gue ketemu bapak dan ibu. Cipika cipiki biasa, soalnya baru sebulan yang lalu bapak sama ibu ke Bali.
Waktu jalan menuju tempat makan di bandara, tiba-tiba ada yang menutup mata gue dari belakang. Gue gak kepikiran sama sekali siapa yang ada di belakang gue itu. Ternyata, jreng-jreng-jreng…

AISYAH.

Sialan. Sahabat gue yang satu ini memang hobi ngagetin orang dengan sifat randomnya. Kita berpelukan sambil teriak-teriak. Gue sangat bahagia melihat Ai. Dalam hati bersyukur punya sahabat kayak dia. So, thanks to you, Ai! To be honest, gue pulang karena kerinduan gue sama Sisgahana, terutama Chandra Purnama. Dan Ai merusak momentum. Tadinya gue pengen heboh pas syukuran. Bye.

Gue masih lelah waktu sampe rumah. Gue tidur sebentar. Merasakan hawa berbeda, hawa aneh, setelah sekian lama gak pulang. Entah kenapa setiap gue ada disini, melankolis gue suka gak bisa di kontrol. Padahal di Bali, gue cenderung cuek dengan “perasaan”, kayak udah kebal sama semua hal gitu.

Gue mengingat-ngingat apa saja yang sudah gue lewati. Ya Tuhan, gue pergi selama itu. Gue merasa diri gue berubah drastis dalam segala hal. Gue butuh beradaptasi lagi. Gue hanya singgah disini. Tempat tinggal gue yang sesungguhnya ada di Bali sekarang. Gue mengingat kembali masalah-masalah yang pernah-dan masih ada. Masalah apa aja yang harus gue selesaikan besok selama disini.

Kangen Della, kangen Dinda, kangen Ai (walaupun udah ketemu). Ada ratusan bahkan mungkin ribuan kenangan bersama mereka yang belum pernah gue ceritakan kepada siapapun. Kualitas waktu terbaik yang gue miliki itu waktu bersama mereka. Secara gak sadar setiap hari belajar sama mereka. Bukan cuma materi, tapi juga belajar tentang tanggung jawab, keberanian, kasih sayang, saling menghargai, terstruktur, dan lain-lain. Mereka adalah sahabat yang bisa menjadi hebat dalam keadaan serius, sekaligus menjadi sahabat terasik untuk bercanda. Lagi-lagi dalam hati gue bersyukur bisa memiliki mereka dalam hidup gue.

Waktu pisah, terus jauh-jauhan, sedih sih.. Cuma ya kita sama-sama mengejar impian yang sering kita bicarakan. Waktu kelas 3 SMA, hampir setiap hari kita saling cerita tentang cita-cita, mau kemana? Mau jadi apa? Mau ngapain aja? Ketawa sama-sama, nangis sama-sama. Sampai pada akhirnya, waktu berjalan sangat cepat. Kita udah memulai itu semua. Keberhasilan mereka adalah keberhasilan gue juga. Kesedihan mereka adalah kesedihan gue juga. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan gue juga. Jatuhnya mereka adalah saat gue harus menarik mereka kembali.

Ketika masalah itu datang, gue berusaha gak gegabah. Gue berusaha mengambil hikmahnya. Ya mungkin masalah ini lah yang akan mempersatukan kita lagi. Bereempat lagi.


Ya Tuhan, sebenernya cuma mau bilang, kangen banget sama Chandra Purnama.