8 Januari, 2016
Kalimat yang muncul di pikiran gue waktu mendarat di
Bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya semangat banget menghitung hari menuju hari
dimana gue akan pulang. Sampai lama kelamaan jadi males untuk pulang. Rasanya
berat untuk meninggalkan Pulau Dewata. 6 bulan tinggal di Bali dengan semua hal
baru : teman baru, kampus baru, lingkungan baru. Tanpa ada yang sama seperti
kehidupan gue sebelumnya. Tidak ada sama sekali yang tersisa dari kehidupan
lama gue selain karakter gue sendiri.
Udara panas di Jakarta langsung menyambut gue yang
sekarang sudah berhijab (Alhamdulillah). Gue bahkan baru sadar ternyata Jakarta
memang sepanas ini. Gue pulang bareng sama anak antro. Teman seangkatan gue,
Firly dan Elsa. Ada juga dua senior gue. Kita berpisah begitu saja. Kemudian
gue ketemu bapak dan ibu. Cipika cipiki biasa, soalnya baru sebulan yang lalu
bapak sama ibu ke Bali.
Waktu jalan menuju tempat makan di bandara,
tiba-tiba ada yang menutup mata gue dari belakang. Gue gak kepikiran sama sekali
siapa yang ada di belakang gue itu. Ternyata, jreng-jreng-jreng…
AISYAH.
Sialan. Sahabat gue yang satu ini memang hobi
ngagetin orang dengan sifat randomnya. Kita berpelukan sambil teriak-teriak. Gue
sangat bahagia melihat Ai. Dalam hati bersyukur punya sahabat kayak dia. So,
thanks to you, Ai! To be honest, gue pulang karena kerinduan gue sama
Sisgahana, terutama Chandra Purnama. Dan Ai merusak momentum. Tadinya gue
pengen heboh pas syukuran. Bye.
Gue masih lelah waktu sampe rumah. Gue tidur sebentar.
Merasakan hawa berbeda, hawa aneh, setelah sekian lama gak pulang. Entah kenapa
setiap gue ada disini, melankolis gue suka gak bisa di kontrol. Padahal di
Bali, gue cenderung cuek dengan “perasaan”, kayak udah kebal sama semua hal
gitu.
Gue mengingat-ngingat apa saja yang sudah gue
lewati. Ya Tuhan, gue pergi selama itu. Gue merasa diri gue berubah drastis
dalam segala hal. Gue butuh beradaptasi lagi. Gue hanya singgah disini. Tempat
tinggal gue yang sesungguhnya ada di Bali sekarang. Gue mengingat kembali
masalah-masalah yang pernah-dan masih ada. Masalah apa aja yang harus gue
selesaikan besok selama disini.
Kangen Della, kangen Dinda, kangen Ai (walaupun udah
ketemu). Ada ratusan bahkan mungkin ribuan kenangan bersama mereka yang belum
pernah gue ceritakan kepada siapapun. Kualitas waktu terbaik yang gue miliki
itu waktu bersama mereka. Secara gak sadar setiap hari belajar sama mereka. Bukan
cuma materi, tapi juga belajar tentang tanggung jawab, keberanian, kasih
sayang, saling menghargai, terstruktur, dan lain-lain. Mereka adalah sahabat
yang bisa menjadi hebat dalam keadaan serius, sekaligus menjadi sahabat terasik
untuk bercanda. Lagi-lagi dalam hati gue bersyukur bisa memiliki mereka dalam
hidup gue.
Waktu pisah, terus jauh-jauhan, sedih sih.. Cuma ya
kita sama-sama mengejar impian yang sering kita bicarakan. Waktu kelas 3 SMA,
hampir setiap hari kita saling cerita tentang cita-cita, mau kemana? Mau jadi
apa? Mau ngapain aja? Ketawa sama-sama, nangis sama-sama. Sampai pada akhirnya,
waktu berjalan sangat cepat. Kita udah memulai itu semua. Keberhasilan mereka
adalah keberhasilan gue juga. Kesedihan mereka adalah kesedihan gue juga.
Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan gue juga. Jatuhnya mereka adalah saat gue
harus menarik mereka kembali.
Ketika masalah itu datang, gue berusaha gak gegabah.
Gue berusaha mengambil hikmahnya. Ya mungkin masalah ini lah yang akan
mempersatukan kita lagi. Bereempat lagi.
Ya Tuhan, sebenernya cuma mau bilang, kangen banget
sama Chandra Purnama.